Jumat, 26 Juni 2015

Asma Bisa Perparah Depresi, Depresi Bisa Perparah Asma

Stres atau depresi seringkali dituding menjadi penyebab atau pemicu beberapa penyakit. Penderita asma cenderung menunjukkan peningkatan masalah kejiwaan termasuk depresi. Sebaliknya penderita depresi makin frustasi saat asmanya kumat karena tak mampu mengurus diri sendiri. Survei yang dilakukan di Turki menunjukkan bahwa gejala depresi sering terjadi bersamaan dengan kebiasaan tidak sehat yang umum pada banyak penderita asma.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala depresi ringan mungkin berhubungan dengan faktor risiko seperti yang berhubungan dengan merokok, aktivitas fisik, dan kurang tidur. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa, kesehatan yang berhubungan dengan faktor risiko negatif mengakibatkan kontrol asma yang buruk dan bisa menyebabkan perkembangan yang mengarah pada hubungan antara asma dan depresi.

Hasil survei menunjukkan bahwa peserta survei yang memiliki asma dan memiliki gejala depresi adalah sekitar 37,4 persen dibandingkan dengan 21,8 persen orang yang memiliki gejala depresi namun tidak disertai asma.

Penderita asma dengan gejala depresi lebih berisiko memiliki perilaku tidak sehat, antara lain

» Ketidakaktifan fisik
» Merokok
» Tidur kurang dari 6 jam di malam hari

Secara keseluruhan, penderita asma dewasa menunjukkan peningkatan masalah kejiwaan, termasuk depresi, yang pada gilirannya bisa memiliki dampak yang merugikan pada kontrol asma yang mereka alami. Hal tersebut bisa diistilahkan sebagai lingkaran setan, di mana penderita depresi tidak bisa mengurus diri sendiri sehingga asma yang mereka alami memburuk.

Sehingga menyebabkan mereka menjadi lebih tertekan, dan menyebakan mereka semakin tidak bisa mengurus diri sendiri. Kaitan timbal balik antara depresi dan asma tidak hanya memperburuk risiko morbiditas dan mortalitas, namun juga bisa menyebabkan morbiditas psikiatri yang lebih besar. Para peneliti menyimpulkan bahwa, dokter harus menyadari tumpang tindih antara asma dan gejala depresi, bahkan pada pasien yang belum didiagnosa secara spesifik mengalami depresi. Masih perlu dilakukan berbagai penelitian untuk bisa menemukan mekanisme hubungan sebab akibat yang lebih jelas kondisi kesehatan dan gejala gangguan mental.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar