Jumat, 26 Juni 2015

Gangguan Kesehatan yang Rentan Dialami Wanita

Pria dan wanita berbeda secara biologis sehingga memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Ada beberapa penyakit yang cenderung lebih berbahaya bagi wanita dibandingkan pria.

Berikut merupakan penyakit-penyakit yang rentan diderita wanita dan cara mencegahnya:

» Penyakit Seksual Menular

Perubahan hormonal menyebabkan naik-turunnya berat badan secara terus-menerus yang mengganggu sistem imun tubuh. Hal ini membuat wanita lebih rentan terkena penyakit seksual menular.

» Penyakit Jantung

Rata-rata wanita mengalami serangan jantung pertamanya 10 tahun lebih lambat dari pria, namun wanita lebih rentan mengalami serangan jantung kedua yang lebih cepat. Peluang ini bisa bertambah besar setelah menopause. Untuk mencegahnya, cobalah meluangkan waktu setidaknya 30 menit per-hari untuk olah raga kardio yang menjauhkan Anda dari penyakit jantung.

» Osteoporosis

Setelah menopause, wanita kehilangan massa tulang lebih cepat daripada pria karena mengalami perubahan hormon dalam tubuh. Untuk mencegahnya, mulailah mengonsumsi 4-5 gelas susu per hari disertai dengan gerakan yang melatih fisik Anda.

» Depresi

Perubahan konstan pada hormon estrogen dan progesteron serta produksi serotonin (hormon kegembiraan) yang sedikit dari otak wanita bisa membuat mereka lebih mudah terserang depresi. Untuk mencegahnya, luangkan sedikit waktu untuk memanjakan diri atau lakukan meditasi setiap harinya.

» Insomnia

Menurut hasil penelitian, jam tidur wanita rata-rata lebih sedikit daripada pria. Biasanya disebabkan tekanan yang dialami wanita seperti mengurus keluarga, kewajiban memasak, dan sebagainya. Pekerjaan yang multitasking kadang membuat wanita cenderung lebih mudah terserang tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan depresi. Mulailah menciptakan jam tidur yang berkualitas dengan mematikan semua gadget Anda dari satu jam sebelum tidur.

Cukup Satu Telur Per Hari

Telur merupakan makanan yang kaya nutrisi. Tak heran jika telur menjadi favorit sebagian orang. Maxine Smith, RD, LD, seorang ahli gizi di Pusat Klinik Clevend menyarankan bijak dalam pengonsumsiannya. Satu telur setiap hari sudah cukup.

Satu telur per hari umumnya aman, tetapi lebih dari itu bisa meningkatkan risiko penyakit jantung di kemudian hari. Telur memiliki rata-rata 187 mg kolesterol dari batasan yang dianjurkan, yaitu 300 mg. Atau hanya 200 mg jika Anda memiliki diabetes atau penyakit jantung.

Mengonsumsi tujuh butir telur atau lebih dikaitkan dengan penambahan 23 persen risiko kematian dini. Bahkan, pria dan wanita yang mengonsumsi telur setiap hari menaikkan risiko 58 persen dan 77 persen risiko diabetes tipe 2.

Memakan makanan yang sama setiap hari juga bisa menaikkan berat badan Anda. Variasi makanan itu lebih baik. Jadi jika Anda ingin tetap makan telur, jangan lupa sertakan sumber nutrisi lainnya.

Asma Bisa Perparah Depresi, Depresi Bisa Perparah Asma

Stres atau depresi seringkali dituding menjadi penyebab atau pemicu beberapa penyakit. Penderita asma cenderung menunjukkan peningkatan masalah kejiwaan termasuk depresi. Sebaliknya penderita depresi makin frustasi saat asmanya kumat karena tak mampu mengurus diri sendiri. Survei yang dilakukan di Turki menunjukkan bahwa gejala depresi sering terjadi bersamaan dengan kebiasaan tidak sehat yang umum pada banyak penderita asma.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala depresi ringan mungkin berhubungan dengan faktor risiko seperti yang berhubungan dengan merokok, aktivitas fisik, dan kurang tidur. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa, kesehatan yang berhubungan dengan faktor risiko negatif mengakibatkan kontrol asma yang buruk dan bisa menyebabkan perkembangan yang mengarah pada hubungan antara asma dan depresi.

Hasil survei menunjukkan bahwa peserta survei yang memiliki asma dan memiliki gejala depresi adalah sekitar 37,4 persen dibandingkan dengan 21,8 persen orang yang memiliki gejala depresi namun tidak disertai asma.

Penderita asma dengan gejala depresi lebih berisiko memiliki perilaku tidak sehat, antara lain

» Ketidakaktifan fisik
» Merokok
» Tidur kurang dari 6 jam di malam hari

Secara keseluruhan, penderita asma dewasa menunjukkan peningkatan masalah kejiwaan, termasuk depresi, yang pada gilirannya bisa memiliki dampak yang merugikan pada kontrol asma yang mereka alami. Hal tersebut bisa diistilahkan sebagai lingkaran setan, di mana penderita depresi tidak bisa mengurus diri sendiri sehingga asma yang mereka alami memburuk.

Sehingga menyebabkan mereka menjadi lebih tertekan, dan menyebakan mereka semakin tidak bisa mengurus diri sendiri. Kaitan timbal balik antara depresi dan asma tidak hanya memperburuk risiko morbiditas dan mortalitas, namun juga bisa menyebabkan morbiditas psikiatri yang lebih besar. Para peneliti menyimpulkan bahwa, dokter harus menyadari tumpang tindih antara asma dan gejala depresi, bahkan pada pasien yang belum didiagnosa secara spesifik mengalami depresi. Masih perlu dilakukan berbagai penelitian untuk bisa menemukan mekanisme hubungan sebab akibat yang lebih jelas kondisi kesehatan dan gejala gangguan mental.

Banyak Makan Telur Bikin Bisulan

Kata orangtua, terlalu banyak makan telur bisa menyebabkan bisulan atau jerawat. Tidak 100 persen betul. Kalau memang orang itu alergi protein telur, bisa saja terjadi gatal-gatal setelah mengonsumsi. Tetapi kalau tidak ada faktor alergi, ya tidak menimbulkan gatal. Reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan tidak selalu bersumber dari telur. Ada orang-orang yang alergi protein lain seperti udang atau susu. Untuk mengetahui apakah seseorang alergi protein telur atau tidak kita bisa melakukan tes alergi di rumah sakit.

Sekarang alatnya sudah tersedia di beberapa rumah sakit, di mana kita bisa mengetes alergi yang berasal dari sumber makanan tertentu. Telur sendiri merupakan salah satu sumber protein hewani yang bioelastisitasnya tinggi. Artinya, sebagian besar sumber protein ini bisa terserap oleh tubuh. Sebenarnya, lanjut dr. Yohana, yang penting adalah kebutuhan protein terpenuhi. Jadi kalau kita tidak makan daging, makan telur juga tidak masalah karena juga merupakan sumber protein hewani.

Satu (putih) telur mengandung 6 gram sumber protein. Jika kebutuhan protein kita 50 gram sehari, kita bisa mengonsumsi 1-2 butir telur per hari atau sekitar 12 gram. Sisa kebutuhan protein bisa diambil dari sumber makanan lain. Hanya saja, ada yang perlu diperhatikan karena telur mengandung kolesterol. Dalam satu telur terbisa 150 mg kolesterol.

Jika tubuh kita sedang mengalami gangguan metabolisme seperti DM (Diabetes Mellitus), asupan konsumsi kolesterol maksimal 200-300 mg. Berarti maksimal kita mengonsumsi satu telur dalam sehari. Kecuali bila kuning telurnya tidak dikonsumsi, karena kolesterol tinggi terbisa dalam kuning telur. Oleh karena itu, tak perlu enggan mengonsumsi telur. Kita hanya perlu melihat kebutuhan protein harian, yang bisa dibisa dari hewani (berupa telur, daging) dan nabati (berasal dari kacang-kacangan, nasi). Untuk perbandingan protein hewani dan nabati yang baik, kalau kebutuhan protein esensialnya lebih tinggi bisa 2 hewani  1 nabati.

Namun secara keseluruhan, makanan yang dikonsumsi mestinya bervariasi. Jadi meskipun telur sumber protein yang baik, tidak lantas kita harus makan telur terus menerus. Sebab, makanan bervariasilah yang baik untuk tubuh kita.

Pola memasak telur yang baik

Telur yang direbus jelas tidak menambah lemak karena bebas dari minyak. Namun demikian mengenai pola memasak, kita juga perlu memperhitungkan kebutuhan lemak harian kita. Jika pilihannya telur rebus, harus telur yang sudah matang. Kita tidak boleh mengonsumsi telur setengah matang.